Sabtu, 27 Oktober 2007

Tentang cinta

Waktu berjalan, membawaku pada sebuah pertanyaan, Apa itu cinta?

Jalaluddin Rumi pernah mengatakan bahwa cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamannya.
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur �
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan,
buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka !
Cukuplah ! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu ?
Cinta memiliki banyak penyataan melampaui pembicaraan. . .

Adapula yang mendefinisikan cinta seperti ini:

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang saling mencintai, menyebutnya takdir.
Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kita kesusahan untuk menguji.
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.

Bagiku cinta tetap saja sebuah pertanyaan. Setiap mendapati satu kesimpulan dari perenunganku tentang cinta, aku selalu tertarik untuk mengujinya. Dan dalam usahaku membuktikan "kebenaran"-ku itu, aku selalu saja sampai pada tembok tinggi yang membuatku mati langkah. Cinta ternyata tak sedangkal itu ternyata, pikirku.

Dahulu, aku pernah berpikir bahwa cinta itu jika aku bisa memiliki orang yang aku sukai. Mengejarnya, berusaha menaklukkan hatinya adalah sebuah keasyikan tersendiri. Semakin aku terus mencoba, semakin semua itu menghadirkan rasa-rasa asing yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Membuat si bodoh ini terus saja bertanya: inikah cinta???

Lalu, atas kuasa-Nya yang kusebut cinta itu bersatu jua. Membawaku pada dunia yang berbeda, membutakan logika, membawaku pada segala keindahan nirwana. Semua terasa indah, bahkan rumput yang bergoyang pun seakan menari-nari untukku hendak merayakan bersatunya "cinta"-ku. Awan yang berarak, malam yang sepi, sekan seperti sumber mata air yang mengalirkan inspirasi tentang keindahan. Entah berapa banyak kata-kata puitis terjadi begitu saja. Lalu sejenak aku berpikir, inikah yang disebut cinta?

Detik berlalu, dua jiwa kini semakin dekat saja. Mencoba saling mengerti, dan tentu saja ingin juga dimengerti. Entah sudah berapa lama aku berjalan dalam cinta, sampai satu ketika aku percaya, cinta adalah ketulusan. Bukan tentang memiliki atau dimiliki, mencintai adalah memastikan orang yang kita cintai mendapatkan kebahagiaannya. Tak masalah dengan siapa cinta kita akhirnya, yang nyata dia haruslah bahagia. Bukankah begitu?

Tapi, sungguh kesimpulan itu tak sepenuhnya bisa aku terima. Karena dalam pembuktianku pada kesimpulan itu, aku merasa, cinta tak jauh beda dengan derita. Lalu, Apa itu cinta???

Tidak ada komentar: